Wednesday, April 8, 2026

Sunda atau Kandas? Mengapa SMA di Jawa Barat Tak Bisa 'Amnesia' pada Bahasa Daerah

(Bogor, 2026) Di tengah gempuran kurikulum yang makin digital dan global, sebuah pertanyaan mendasar muncul di koridor-koridor sekolah menengah di Jawa Barat: "Masih wajibkah kita belajar Bahasa Sunda?” Jawabannya bukan sekadar "masih", melainkan sebuah keharusan yang diikat oleh hukum dan sistem administrasi yang ketat.

Bukan Sekadar Logat, Tapi Mandat

Bagi seluruh SMA di Jawa Barat baik itu sekolah negeri yang dikelola pemerintah maupun sekolah swasta dengan kurikulum internasional sekalipun Bahasa Sunda memiliki status sebagai Muatan Lokal (Mulok) Wajib. Ini bukan sekadar gerakan nostalgia, melainkan amanat dari Perda No. 14 Tahun 2014 dan Pergub Jabar No. 69 Tahun 2013.

Di tahun 2026 ini, meski Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan bagi sekolah untuk berinovasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat tetap memegang kendali pada aspek identitas. Bahasa Sunda diposisikan sebagai jangkar budaya agar generasi muda tidak kehilangan orientasi di tengah arus modernisasi.

Risiko di Balik "Penghapusan" Mata Pelajaran

Apa jadinya jika sebuah sekolah nekat meniadakan Bahasa Sunda dari jadwal pelajarannya? Konsekuensinya ternyata tidak sesederhana "kehilangan satu mata pelajaran". Ada efek domino administratif yang siap menanti:

 1. "Kiamat" Tunjangan Guru: Ini adalah dampak paling krusial. Jika Bahasa Sunda dihapus, para guru pengampu yang telah tersertifikasi akan kehilangan jam mengajar di sistem Dapodik. Tanpa memenuhi syarat 24 jam tatap muka, Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang menjadi hak mereka dipastikan tidak akan cair.

 2. Rapor yang "Cacat" Administrasi: Rapor digital SMA di Jawa Barat telah disetting dengan kolom muatan lokal yang wajib terisi. Jika kosong, validitas data siswa saat sinkronisasi ijazah atau proses mutasi sekolah akan terhambat.

 3. Ancaman Akreditasi dan Izin: Sekolah swasta yang membandel akan berhadapan dengan pengawas Dinas Pendidikan. Ketidakpatuhan ini bisa menurunkan skor akreditasi (misalnya dari A ke B) dan dalam tahap ekstrem, mempersulit proses perpanjangan izin operasional.

Bahasa Sunda Versi 2026: Lebih Adaptif

Memasuki tahun 2026, wajah pembelajaran Bahasa Sunda di SMA pun mulai bersalin rupa. Tidak lagi melulu soal menghafal kosakata kuno, kurikulum daerah kini lebih fokus pada kemampuan komunikasi praktis, apresiasi seni digital, hingga penguatan karakter melalui filosofi "Silih Asah, Silih Asih, Silih Asuh".

Bahasa Sunda di SMA Jawa Barat bukan sekadar pengisi jadwal di hari Rabu atau Kamis. Ia adalah bagian dari kontrak legal sebuah lembaga pendidikan dengan tanah tempatnya berdiri. Sekolah yang mencoba menghapusnya, secara tidak langsung sedang memutus rantai administratif dan identitas yang menjaga eksistensi mereka sendiri di Bumi Siliwangi.